Pernahkah kamu pergi ke suatu tempat yang
belum pernah kamu kunjungi? Padang rumput savana yang berwarna putih.
Pohon-pohon dan dedaunannya ikutan berwarna putih. Aku melihat kumbang jantan
pun berwarna putih dan kupu-kupu pun serba putih.
Belum tau ini tempat apa. Dalam pelajaran IPS
tempo SD dulu yang diajarkan bahwa rerumputan savana itu hijau dan ditumbuhi
pohon-pohon ciri khas hutan savana. Biasanya di negara-negara Eropa sana, para
gembalawan maupun gembala wati membawa domba-dombanya ke sana. Tapi, kalau
rumputnya berwarna putih, masihkah domba-domba itu menyukai rerumputan ini?
Kata Cik Lam kepadaku, bahwa rumput
tetangganya kini telah putih dari bawah sampai ke ujung helai daun rerumputan
itu. Tak ada yang tau kenapa berubah drastis serba putih.
Sejak bulan datang, kulit kawanku pun kini
memutih. Hampir aku tak mengenalnya. Yak, jauh sekali berbeda dari biasanya.
Dari simpang lima kampung ini,
bendera-bendera partai yang dulunya beragam warna dari merah, oren, hijau,
biru, dan kuning kini pun mereka ikut-ikutan memutih. Hal apa ini?
Jalan-jalan raya tidak adalagi garis-garis
penunjuk jalannya. Di penyebarangan jalan juga sudah tidak ada tanda zebra
cross. Semua memutih.
Aku berjalan tepat di depan kantor gubernur
jalannya masih hitam. Setelah jembatan lamprit sampai ke batas zona gedung
kantor gubernur aku tak menemui putih, yang ada hitam.
Aku ke acara walimahan. Baju-baju yang
dipakai oleh tetamu undangan juga serba putih. Dari ujung rambut sampai ujung
kaki juga putih.
Namun, pada barisan tengah diantara kerumunan
tetamu lain. Malah ada yang berbeda warna. Ya dia memakai baju hitam. Aku
hampiri. Tak kuucapkan sebuah ucapan karena memilih zat yang berbeda. Bagiku
apa yang berbeda itu bukan untuk diucap. Itu hanya sebuah ritual bahasa dunia
yang tak perlu diumbar. Ini Aceh nong!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar